Kamis, 15 Oktober 2015

Novel Mengulum Senyum Bidadari surga Cetakan ke-2




Nama Penulis: Yuniastari Inanahayu, S.Pd
Usia: 23 tahun
Jenis Kelamin: Wanita
Nomor HP: 085746446703
Judul Novel:

MENGULUM SENYUM BIDADARI SURGA

Berikut Ringkasan/Sinopsis Novel saya:


Mengulum Senyum Bidadari Surga.
Tidak ada firasat yang pasti akan sebuah ketidaksengajaan
Yang membawa bibit cinta dan buih kesetiaan terhadap rencana Ilahi
Setitik benih kasih yang sebenarnya milik sang Pecinta Hakiki
Dan harusnya kembali kepada Pecinta itu sendiri
Kini kudekap dalam memori sanubari
Dalam... dan terselubung ketuban abdi
          
  “Ada memang masanya kita dipertemukan oleh Allah dengan seseorang yang terencana menjadi jodoh kita. Jika firasatku benar, semoga Allah memberi yang terbaik.” gumam Arumi dalam hatinya. Saat ini ia kembali dipertemukan dengan Subhan lagi, setelah 3 tahun lamanya rasa itu terpendam dan baru sekarang sebuah email semakin meyakinkannya bahwa ‘manusia berpeci’ dalam mimpinya adalah Subhan, jodohnya. Seorang kawan lama yang sangat ia harapkan menjadi ikhwan.

              3 tahun kemudian, idealnya sebuah hubungan jarak jauh, tak ada kontak sama sekali 3 tahun ini semenjak janji email itu, Arumi pun fokus dengan studinya. Tetapi hari ini ada kejadian yang akan membuatnya tertegun dan berpikir kembali atas komitmennya. Seorang ikhwan yang menjadi Presma di kampusnya, yang menjadi ketua dalam organisasi yang ditekuninya mengkhitbahnya setelah syuro’ selesai. Khitbah itu diwakili oleh wakil ketua organisasi dahwah kampusnya yang juga saat itu dihadiri langsung oleh Akhi Rahman, sang Presma. Suasana yang membuatnya terbujur kaku di dalam ruangan berhijab itu. Sukmanya melayang menembus ruang dimana dia pernah berkomunikasi di dunia maya dengan janji-janji yang pernah ia singgahi bersama seseorang, yang saat ini seseorang itu tak tahu entah dimana... Masihkah ia mengingatku 3 tahun ini? Lamunannya buyar di tengah 8 mata yang sedang ia hadapi saat ini.
 “Baik, jika antum sudah siap untuk menerima atau menolak khitbah ini tolong hubungi ana, apapun keputusan antum akan ana terima,”pesan akhi Rahman mengakhiri kalam.
“Na’am, akhi. Innallaha ma’ash-shobirin,”jawab Ukhty Sholihah, sekretaris organisasi yang juga sahabat dekat Arumi mencoba menenangkan suasana.
            Di asrama, Arumi masih diam tak berkata, entahlah, wajahnya menyiratkan seperti ada bongkahan batu besar yang sedang ia bawa ke kontrakan. Ukhty Sholihah menangkap itu. “Kenapa denganmu, saudariku. Tidakkah harusnya bahagia seorang mar’atus sholihah menerima khitbah seorang ikhwan sholeh? Kenapa anti terlihat sedih sekali?”tanya ukhty Sholiha ketika mengantar Arumi istirahat di asrama kampus.
“Wallahi, ana sangat bersyukur dipinang oleh seorang sholeh, ukhty… Tak sedikitpun ana merasa hina olehnya. Hanya saja…”kata Arumi terputus. Arumi pun melanjutkan cerita bahwa ia telah memiliki janji dengan seseorang untuk menunggu dikhitbah sejak 3 tahun lalu. Dan seseorang itu sedang tidak di Indonesia saat ini.  Atas ijin Allah. Cobalah sekarang anti hubungi seseorang itu. Tidakkah lebih baik anti jujur pada
orang itu dan minta kepastian padanya,saran Ukhty Sholihah.
Arumi menelpon seseorang itu malam ini juga. Ya, Muhammad Subhan. Dan jawabannya....
Subhan terdiam. Kemudian menghela nafas dan membuka suara, “Arumi, aku masih belum siap untuk itu. Kontrak kerjaku di Dubai masih 5 tahun lagi. Kemungkinan untuk melamarmu masih lama, aku belum siap sama sekali. Maafkan aku… Tapi jika selama 5 tahun itu kamu sudah tidak kuat menungguku, aku ikhlaskan Arumi memilih yang lain.”
Arumi melepas hpnya, ia terkulai di lantai dan membiarkan baterai hp dan casingnya terlepas. Arumi pingsan. Setelah jawaban yang menyakitkan itu, Arumi pun menerima khitbah Akhi Rahman dan menikah dengan beliau. Ada sebuah mimpi yang saat ini masih membekas di ingatannya. Dalam mimpi itu Arumi bercermin, tetapi bayangan cermin itu bukanlah dirinya melainkan sebuah tulisan:
Menjalin komitmen itu seperti bermain api, tidak ada yang dapat menjamin kita tak akan terbakar,
akan tetapi ketika sudah memulai maka harus bermain sampai akhir
karena jika tidak, kita yang akan membakar orang lain
atau kita sendiri yang akan terbakar....
Tetapi pada prinsipnya,
seperti apa yang di katakan oleh Senyum Bidadari Malam.....
“jadikan dakwah sebagai poros kehidupan.....”
            Cermin itu seperti berganti slide menjadi sosok bayangan laki-laki putih yang memakai peci yang menggendong seorang bayi berusia 3 tahunan. Tiba-tiba datang lagi di dalam cermin itu seorang perempuan berjilbab putih mendekati mereka berdua. Perempuan itu merangkul mereka. Samar. Arumi melihat perempuan itu tengah memandanginya. Matanya bening, sedikit-sedikit semakin jelas, wajahnya semakin bisa diterka. “Itu aku. Itu aku.”
Setelah pernikahannya Arumi sangat bahagia, saat ini Arumi tengah hamil 6 bulan. Suaminya pun mengajaknya berlibur bersama. Tetapi ternyata takdir berkata lain, saat berangkat berlibur mobil mereka mengalami kecelakaan. Arumi keguguran, rahimnya diangkat, dan suaminya meninggal dunia. Kebahagiaannya terenggut kembali.
Jundi-jundi kecil menari di atas pangkuanku. Memegang jemariku. Membuka lisan kecilnya dan berkata,
 “Bunda.....“
Mereka sumringah di sana
            Di Dubai, Subhan pun menikahi seorang janda beranak 1. Mereka memutuskan kembali ke Indonesia bulan ini. Sesampainya di Indonesia, Subhan mengunjungi Panti Asuhan Mekarsano dan mengenalkan istrinya pada Ummi, ibu angkatnya di panti. Tak lama kemudian terbesit pikiran Subhan untuk mengajak keluarga mengunjungi Arumi dan suaminya, setidaknya untuk menjaga silaturrahmi. Subhan tersentak kaget ketika tahu Arumi telah kehilang suami dan bayi yang dikandungnya  karena kecelakaan. Itu membuatnya
terpukul. Sepintas istri Subhan, Aliyah, menangkap rasa yang janggal diantara keduanya. Tidak heran sebenarnya karena Aliyah sudah tahu cerita tentang Aliyah dan Subhan dulu dari Ummi. Aliyah pun teringat pada penyakit yang sebentar lagi merenggut nyawanya. Aliyah pun menawarkan hal yang sangat jauh diluar perkiraan Subhan, menikah lagi. Ya, Subhan diminta menikah lagi dengan orang yang menurut Aliyah pantas menjaga suami dan anaknya yang masih 3 tahun, Ummah. Subhan tersentak kaget untuk yang kedua kalinya. Ya, baru menginjakkan kaki di Indonesia sudah 2 hal yang membuatnya sangat haru. Tidak. Subhan
menolak tegas tawaran istrinya.
            Malamnya, saat sepasang suami istri ini hendak berjamaah untuk mengokohkan sholat lail. Karena merasa terlalu lama menunggu istrinya yang katanya masih berwudlu di kamar mandi. Sang Imam pun menyusul makmumnya. Kamar mandi terkunci. Subhan mengetuk pintu dan tak ada jawaban dari dalam. Semakin diketuklah dengan lebih keras tetap tak ada jawaban. Subhan khawatir mencapai puncak. Didobraknya pintu kamar mandi dan dilihatnya sang Istri sudah tergeletak di dalam kamar mandi. Pingsan.
            Kata dokter di rumah sakit, Riwayat serangan jantung yang diderita istri Anda cukup parah. Saya tak berkata banyak, untuk usianya yang tinggal sebentar ini cobalah untuk memenuhi keinginan istri Anda yang mungkin belum tersampaikan,”ujar dokter menutup pembicaraan. Alarm darurat tiba-tiba berbunyi. Dokter dan perawat menuju ruang UGD. Drap drap drap! Langkah kaki mereka menggebu di atas lantai rumah sakit. Ummi memeluk  Subhan, menangis. Belum sempat berkata-kata, dokter keluar dari ruang UGD. Beliau menghela nafas. “Innalillahi wainna ilaihi raji’un… Maafkan saya, ini sudah terlambat,”ujar dokter berkerudung itu sambil bermuka sedih. Subhan terkulai. Menjatuhkan diri di bawah lutut Ummi.
“Subhan!”Ummi berseru,”Sabarlah, Nak! Ini ujian dari Allah.” “Allah!!!!” teriak Subhan. Mereka menangis.
Arumi yang saat itu memang diminta Ummi menemani Ummah mendekap erat Ummah yang masih digendongnya. Dari pintu ruang UGD, ada seberkas kaca yang memantulkan bayangannya. Arumi merasa janggal. Ia menghentikan tangisnya, melihat sosok bayangannya hanya berpakaian putih berkerudung putih, padahal ia sadar saat ini ia memakai gamis hijau tua. Bayangan itu posisinya sama dengannya, sedang menggendong Ummah. Tiba-tiba bayangan itu tersenyum, samar-samar wajah Aliyah terlihat menggantikan bayanganku dengan tetap menggendong Ummah, senyumnya indah sekali, sejuk dipandang. Sekejab, bayangan itu kembali menjadi bayanganku semula dengan posisi yang tetap sama. Kini, bayanganku benar memakai gamis hijau tuaku tidak lagi putih...
Suamiku, mungkin ketika mas membaca surat ini Aliyah sudah tak berada di sini lagi…
Aliyah titipkan Ummahatul Muslimah ya… didik ia menjadi wanita sholihah, bentuk ia menjadi ibu untuk para muslim sejati seperti namanya. Mungkin mas bertanya kenapa Aliyah memilih Arumi menjadi pengganti ibu untuk Ummah dan pengganti istri untuk mas… Jawabannya karena Arumi adalah jodohmu mas. Bidadari yang Allah ciptakan untukmu hingga akhirat nanti, insyaAllah. Aliyah yakin, mas dan Arumi akan bahagia bersama.
Amin. Jadilah keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah yang diridhoi Allah. Pesanku, senyumlah selalu.
Istrimu, Aliyah Faidah.
Subhan semakin menangis menemukan surat yang sebelumnya sudah ditata sangat rapi di atas meja kamar itu. Ini bukanlah hal mudah baginya. Tetapi Allah selalu punya rencana indah yang tak pernah kita sangka pada awalnya. Rencana yang sangat indah.
Ada malam yang menggantikan siang. Begitu pula hidup ini
Muncul bibit baru sebagai pengganti bibit yang telah gugur.....
6 bulan kemudian seorang akhi mengkhitbahku
Akhi yang pernah mengucap janji menikahiku
Dengan berbagai kekurangan yang kumiliki
Telah kudapat karunia Allah yang begitu besar
Seorang suami lagi, tempatku mengabdi dan menyempurnakan agamaku
Seorang anak, yang tak perlu aku melahirkannya karena rahimku telah diangkat, Ummah....
Telah kutemukan bidadari... Titian Illahi yang berada di tengah keluargaku kini
Mengulum bias senyum mereka sebagai penghias-penghias surgaku
(Arumijayanti & Muhammad Subhan)
yuniastarii@gmail.com

1 komentar:

  1. untuk pemesanan buku, hubungi:

    CP: 085746446703 (WA/tlp)
    Pin BB: 55BA2048
    fb: yuniastari inanahayu
    email: yuniastarii@gmail.com

    BalasHapus