Nama Penulis: Yuniastari Inanahayu, S.Pd
Usia: 23 tahun
Jenis Kelamin: Wanita
Nomor HP: 085746446703
Judul Novel:
MENGULUM SENYUM BIDADARI SURGA
Berikut Ringkasan/Sinopsis Novel saya:
Mengulum Senyum Bidadari Surga.
Tidak
ada firasat yang pasti akan sebuah ketidaksengajaan
Yang membawa bibit cinta
dan buih kesetiaan terhadap rencana Ilahi
Setitik benih kasih
yang sebenarnya milik sang Pecinta Hakiki
Dan harusnya kembali
kepada Pecinta itu sendiri
Kini kudekap dalam
memori sanubari
Dalam... dan
terselubung ketuban abdi
“Ada memang masanya kita dipertemukan oleh Allah dengan seseorang yang terencana menjadi jodoh kita. Jika firasatku benar, semoga Allah memberi yang terbaik.” gumam Arumi dalam hatinya. Saat ini ia kembali dipertemukan dengan Subhan lagi, setelah 3 tahun lamanya rasa itu terpendam dan baru sekarang sebuah email semakin meyakinkannya bahwa ‘manusia berpeci’ dalam mimpinya adalah Subhan, jodohnya. Seorang kawan lama yang sangat ia harapkan menjadi ikhwan.
3 tahun kemudian, idealnya sebuah hubungan jarak jauh, tak ada kontak
sama sekali 3 tahun ini semenjak janji email itu, Arumi pun fokus dengan studinya.
Tetapi hari ini ada kejadian yang akan membuatnya tertegun dan berpikir kembali
atas komitmennya. Seorang ikhwan yang menjadi Presma di kampusnya, yang menjadi
ketua dalam organisasi yang ditekuninya mengkhitbahnya setelah syuro’ selesai.
Khitbah itu diwakili oleh wakil ketua organisasi dahwah kampusnya yang juga
saat itu dihadiri langsung oleh Akhi Rahman, sang Presma. Suasana yang
membuatnya terbujur kaku di dalam ruangan berhijab itu. Sukmanya melayang
menembus ruang dimana dia pernah berkomunikasi di dunia maya dengan janji-janji
yang pernah ia singgahi bersama seseorang, yang saat ini seseorang itu tak tahu
entah dimana... Masihkah ia mengingatku 3
tahun ini? Lamunannya buyar di tengah 8 mata yang sedang ia hadapi saat
ini.
“Baik, jika antum sudah siap untuk menerima
atau menolak khitbah ini tolong hubungi ana, apapun keputusan antum akan ana
terima,”pesan akhi Rahman mengakhiri kalam.
“Na’am, akhi. Innallaha
ma’ash-shobirin,”jawab
Ukhty
Sholihah,
sekretaris organisasi yang juga sahabat dekat Arumi mencoba
menenangkan suasana.
Di asrama,
Arumi masih diam tak berkata, entahlah, wajahnya menyiratkan seperti ada
bongkahan batu besar yang sedang ia bawa ke kontrakan. Ukhty Sholihah menangkap
itu. “Kenapa
denganmu, saudariku. Tidakkah harusnya bahagia seorang mar’atus sholihah
menerima khitbah seorang ikhwan sholeh? Kenapa anti terlihat sedih sekali?”tanya ukhty Sholiha ketika mengantar
Arumi istirahat di asrama kampus.
“Wallahi, ana sangat bersyukur
dipinang oleh seorang sholeh, ukhty… Tak sedikitpun ana merasa hina olehnya.
Hanya saja…”kata Arumi terputus. Arumi pun melanjutkan cerita bahwa ia telah memiliki janji
dengan seseorang untuk menunggu dikhitbah sejak 3 tahun lalu. Dan seseorang itu
sedang tidak di Indonesia saat ini. “Atas ijin Allah. Cobalah sekarang
anti hubungi seseorang itu. Tidakkah lebih baik anti jujur pada
orang itu dan minta kepastian
padanya,”saran Ukhty Sholihah.
Arumi menelpon seseorang itu malam ini
juga. Ya, Muhammad
Subhan. Dan jawabannya....
Subhan terdiam. Kemudian menghela
nafas dan membuka suara, “Arumi, aku masih belum siap untuk itu. Kontrak kerjaku di Dubai
masih 5 tahun
lagi. Kemungkinan untuk melamarmu masih lama, aku belum siap sama sekali.
Maafkan aku… Tapi jika selama 5 tahun itu kamu sudah tidak kuat menungguku, aku ikhlaskan
Arumi memilih yang lain.”
Arumi melepas hpnya, ia terkulai di lantai dan
membiarkan baterai
hp dan casingnya terlepas. Arumi pingsan. Setelah jawaban yang menyakitkan itu, Arumi pun menerima
khitbah Akhi Rahman dan menikah dengan beliau. Ada sebuah mimpi yang saat ini
masih membekas di ingatannya. Dalam mimpi itu Arumi bercermin, tetapi bayangan
cermin itu bukanlah dirinya melainkan sebuah tulisan:
Menjalin komitmen
itu seperti bermain api, tidak ada yang dapat menjamin kita tak akan terbakar,
akan tetapi ketika
sudah memulai maka harus bermain sampai akhir
karena jika tidak,
kita yang akan membakar orang lain
atau kita
sendiri yang akan terbakar....
Tetapi pada
prinsipnya,
seperti apa yang di
katakan oleh Senyum Bidadari
Malam.....
“jadikan
dakwah sebagai poros kehidupan.....”
Cermin itu
seperti berganti slide menjadi sosok
bayangan laki-laki putih yang memakai peci yang menggendong seorang bayi
berusia 3 tahunan. Tiba-tiba datang lagi di dalam cermin itu seorang
perempuan berjilbab putih
mendekati
mereka berdua. Perempuan itu merangkul mereka. Samar. Arumi melihat perempuan itu tengah memandanginya.
Matanya bening,
sedikit-sedikit semakin jelas, wajahnya semakin bisa diterka. “Itu aku. Itu
aku.”
Setelah pernikahannya Arumi sangat bahagia, saat ini Arumi
tengah hamil 6 bulan. Suaminya pun mengajaknya berlibur bersama. Tetapi
ternyata takdir berkata lain, saat berangkat berlibur mobil mereka mengalami
kecelakaan. Arumi keguguran, rahimnya diangkat, dan suaminya meninggal dunia.
Kebahagiaannya terenggut kembali.
Jundi-jundi kecil menari di atas pangkuanku. Memegang jemariku. Membuka lisan kecilnya dan berkata,
“Bunda.....“
Mereka sumringah
di sana
Di Dubai, Subhan pun menikahi
seorang janda beranak 1. Mereka memutuskan kembali ke Indonesia bulan ini.
Sesampainya di Indonesia, Subhan mengunjungi Panti Asuhan Mekarsano dan
mengenalkan istrinya pada Ummi, ibu angkatnya di panti. Tak lama kemudian terbesit
pikiran Subhan untuk mengajak keluarga mengunjungi Arumi dan suaminya,
setidaknya untuk menjaga silaturrahmi. Subhan tersentak kaget ketika tahu Arumi
telah kehilang suami dan bayi yang dikandungnya
karena kecelakaan. Itu membuatnya
terpukul. Sepintas
istri Subhan, Aliyah, menangkap rasa yang janggal diantara keduanya. Tidak
heran sebenarnya karena Aliyah sudah tahu cerita tentang Aliyah dan Subhan dulu
dari Ummi. Aliyah pun teringat pada penyakit yang sebentar lagi merenggut
nyawanya. Aliyah pun menawarkan hal yang sangat jauh diluar perkiraan Subhan,
menikah lagi. Ya, Subhan diminta menikah lagi dengan orang yang menurut Aliyah
pantas menjaga suami dan anaknya yang masih 3 tahun, Ummah. Subhan tersentak
kaget untuk yang kedua kalinya. Ya, baru menginjakkan kaki di Indonesia sudah 2
hal yang membuatnya sangat haru. Tidak. Subhan
menolak tegas tawaran
istrinya.
Malamnya, saat sepasang suami istri
ini hendak berjamaah untuk mengokohkan sholat lail. Karena merasa terlalu lama
menunggu istrinya yang katanya masih berwudlu di kamar mandi. Sang Imam pun
menyusul makmumnya. Kamar mandi terkunci. Subhan mengetuk pintu dan tak ada
jawaban dari dalam. Semakin diketuklah dengan lebih keras tetap tak ada
jawaban. Subhan khawatir mencapai puncak. Didobraknya pintu kamar mandi dan
dilihatnya sang Istri sudah tergeletak di dalam kamar mandi. Pingsan.
Kata dokter di rumah sakit, “Riwayat serangan jantung yang
diderita istri Anda cukup parah. Saya tak berkata banyak, untuk usianya yang
tinggal sebentar ini cobalah untuk memenuhi keinginan istri Anda yang mungkin
belum tersampaikan,”ujar dokter menutup pembicaraan. Alarm darurat
tiba-tiba berbunyi. Dokter dan perawat menuju ruang UGD. Drap drap
drap! Langkah kaki mereka menggebu di atas lantai rumah sakit. Ummi memeluk
Subhan, menangis. Belum sempat berkata-kata, dokter keluar dari ruang
UGD. Beliau menghela nafas.
“Innalillahi
wainna ilaihi raji’un… Maafkan saya, ini sudah terlambat,”ujar dokter
berkerudung itu sambil bermuka sedih. Subhan terkulai. Menjatuhkan diri di bawah lutut Ummi.
“Subhan!”Ummi berseru,”Sabarlah,
Nak! Ini ujian dari Allah.”
“Allah!!!!” teriak Subhan. Mereka menangis.
Arumi yang saat itu memang diminta Ummi
menemani Ummah mendekap erat Ummah yang masih digendongnya. Dari pintu ruang UGD, ada seberkas
kaca yang memantulkan bayangannya. Arumi merasa janggal. Ia menghentikan tangisnya, melihat
sosok bayangannya hanya berpakaian putih berkerudung putih, padahal ia sadar
saat ini ia memakai gamis hijau tua. Bayangan itu posisinya sama
dengannya, sedang menggendong Ummah. Tiba-tiba bayangan itu tersenyum, samar-samar wajah Aliyah terlihat
menggantikan bayanganku dengan tetap menggendong Ummah, senyumnya indah sekali, sejuk dipandang. Sekejab, bayangan
itu kembali menjadi bayanganku semula dengan posisi yang tetap sama. Kini, bayanganku benar
memakai gamis hijau tuaku tidak lagi putih...
Suamiku,
mungkin ketika mas membaca surat ini Aliyah sudah tak berada di sini
lagi…
Aliyah
titipkan Ummahatul Muslimah ya… didik ia menjadi wanita sholihah, bentuk ia
menjadi ibu untuk para muslim sejati seperti namanya. Mungkin mas bertanya
kenapa Aliyah memilih Arumi menjadi pengganti ibu untuk Ummah dan pengganti
istri untuk mas… Jawabannya karena Arumi adalah jodohmu mas. Bidadari yang
Allah ciptakan untukmu hingga akhirat nanti, insyaAllah. Aliyah yakin, mas dan
Arumi akan bahagia bersama.
Amin. Jadilah keluarga yang sakinah,
mawadah, warahmah yang diridhoi Allah. Pesanku, senyumlah selalu.
Istrimu,
Aliyah Faidah.
Subhan semakin menangis menemukan surat yang sebelumnya
sudah ditata sangat rapi di atas meja kamar itu. Ini bukanlah hal mudah
baginya. Tetapi Allah selalu punya rencana indah yang tak pernah kita sangka
pada awalnya. Rencana yang sangat indah.
Ada malam yang menggantikan siang. Begitu pula
hidup ini
Muncul bibit baru sebagai pengganti bibit yang telah gugur.....
6 bulan kemudian seorang akhi mengkhitbahku
Akhi yang pernah mengucap janji menikahiku
Dengan berbagai kekurangan yang kumiliki
Seorang suami lagi, tempatku mengabdi dan menyempurnakan agamaku
Seorang anak, yang tak perlu aku melahirkannya karena rahimku telah diangkat, Ummah....
Telah kutemukan bidadari... Titian Illahi
yang berada di tengah keluargaku kini
Mengulum bias senyum mereka sebagai penghias-penghias surgaku
(Arumijayanti & Muhammad Subhan)
yuniastarii@gmail.com
untuk pemesanan buku, hubungi:
BalasHapusCP: 085746446703 (WA/tlp)
Pin BB: 55BA2048
fb: yuniastari inanahayu
email: yuniastarii@gmail.com