Prolog
Cinta, apakah itu?
Banyak versi tentang
cinta. Bagi yang telah kecewa dengan kata C-I-N-T-A, cinta itu bulshit. Bagi
yang masih percaya dengan cinta, cinta itu indah. Bagi yang bernafsu, cinta itu
nikmat. Uhh, benarkah? Bagi yang netral pandangannya terhadap cinta, cinta itu
bisa membuat kita bahagia, bisa pula membuat kita sedih. Bagi yang menganggap
cinta itu senda gurau belaka, cinta adalah permainan. Bagi yang sama sekali nol
pemahaman tentang cinta, cinta menjadi rasa ingin tahu yang besar. Hmm, dan
bagi yang menganggap cinta itu anugerah, akan banyak warna di dalamnya. Dan
warna-warna itu akan terlukiskan dalam bait-bait puisi yang sejuk dalam buku
ini. Cinta itu bisa ditujukan pada siapa saja. Pada Tuhan, pada orang tua, pada
saudara, pada keluarga besar, pada kekasih, pada istri, pada suami, pada anak,
pada idola, bahkan pada binatang, pada tumbuhan, pada benda mati, pada harapan,
ataupun pada sesuatu yang abstrak yang jauh dari jangkauan logika. Tidak banyak
yang bisa mengartikan cinta sebelum berani merasakannya. Yupz, betul, cinta
butuh keberanian.
Lalu, menurutmu sendiri cinta itu apa dan bagaimana rasanya?
Selamat menganalisis
cinta dengan bermilyar rasa dan warnanya.
Jadilah milliarder cinta sesungguhnya! Kaya dengan rasa cinta.
@_u
Ide membukukan puisi-puisi ini terinspirasi dari lahirnya adik kecil
“Iqomatul Baqiyyatus Sholiha”
Cermin
Di sini aku memaku harap
memasang frame impian
Melebur, menyatu, meleleh lagi
Di atas cermin masa
Teruslah melaju
Mengalahkan kereta
cinta
Jangan terhenti di besi yang
rapuh
Lalu tak berpanah...
Di sini, cermin itu berkata
bersinar
mem’bulan’i padhange ati
aduh biyung, rasa ini...
tak pernah bisa ditebak logika
(Kamar Nenek, Mlaten, 14’Ma’2008)
Ynst
Rasa
Bimbang rasaku
Sejak dua tahun lalu
Luka terus membekas
Dan akhirnya menyisakan cinta
Cinta atau
derita?
Silih
berganti
Tak
menentu
Kau boleh bilang ini soulmate
Aku pun boleh bilang just
‘classmate’
Timbul
tenggelam
Akhirnya
mimpi mati
Tiba-tiba
hidup lagi
Mati lagi
Seiring waktu ku tentukan hati
Sampai sang Nyata Serwa
Datang pastikan takdirnya
(Rumah Nenek, Mlaten, 14’Ma’2008)
Ynst
Usia dan Syukur
Jarummu usang kini, dik...
Perih menusuk nadi permadani
Jarummu usang kini,
dik...
Mengibas satu muka
merona
Jarummu usang kini, dik...
Percayalah
Kamu ‘melek’ hanya sementara
Jarummu usang kini,
dik...
Terbatas gerak dan
langkah
Dunia ajang rapuhnya
jiwa
Jarummu usang kini, dik...
Jangan mendengkur
Cobalah tersungkur
dan
teguhkan cintamu
(Rumah Nenek, Mlaten, 29’Ma’2008)
Ynst
Kecewa
Cinta... cinta... cinta...
Hanyalah kotak manusia berbuku
Bunga... dinda... Asmara
Layakkah baginya gelar ini?
Rindu... rintih... dendam
Merah jambu mengubah soleknya
Pilu ketika hendak disingkirkan
Meronta cita, semakin berduka
Bunga
terlihat sedikit merekah
Saat asa masih di ujungnya
Ahh...
Akhirnya layu lagi
Kecewa
Harum ketika digariskan dengan pena
Sengak ketika dibiaskan tintanya
Ditanya:
Masihkah ‘dia’ luluh dengan pengkhianatan?
Mengatup kembali...
(Kamar Sunyi, Rumah, Akhir S’2010)
Ynst
Bertemu Kasih Ibu
Tersirat
asa di empat pelupuk
Menangkap
cahaya Halley
Tegas,
cepat menyingkap langit
Haru biru bibirnya
sunyi
Tanpa kata, tapi sarat
makna
Melingkar
tubuhku memuji Tuhan
Betapa
bahagia menyilaukan
Seolah
mendapat serwani
Sempurna
agama dan nama
Kuncup-kuncup cinta merekah
Menambah apiknya dekorasi surga Kini, kubisa tatap wajahmu
Lama...
“Betapa
cantiknya dirimu, Bu....”
(Sajadah Merah, Rumah, 2’O’2010)
Ynst
Asa
Malam semu
Bulan menitikkan air mata
Membuatnya semakin kelabu
Senyap
hati ini
Terlintas sekelebat koloid
Tak ubahnya semakin sempit
Waktu dan hujan
Merampas gerak yang sudah menipis
Semakin tipis dan redup
Ruangan
ini
Membasahi ranting-ranting patah
Agaknya berharap tumbuh lagi
Oh, Nihil...
Mimpi-mimpi
terbang berkelok
Membuatnya semakin elok
Sungguh,
indah nian
Masih mengepak sayapnya di atas armada
(Kamar sunyi, Rumah, 2’O’2010)
Ynst
Puisi ini juga
diabadikan sebagai sebuah lagu
Menikah
Rindang wangi
Melesat ke sarang santri
Aduhai, bahagianya
Melatih jemari cinta
Merangkai ikebana
Aduhai, senangnya
Sejoli ditatih
Cerah senyumnya
Di atas altar
Mari ikut berdiri
Bersama kami
Menjenguk suara Nabi
(di Pernikahan kawan, Grati, 4’O’2010)
Ynst
Ingin sekali aku, Tuhan
Ingin sekali aku, Tuhan
Bertahta dalam jiwa
Mengadu pada naluri
Ingin sekali aku, Tuhan
Tidur di tengah hiruk pikuk dunia
Yang di sana mereka
berkata
Di sini aku tenang
Ingin sekali aku, Tuhan
Memangku rangkaian bungaku
Menikmati warna hidup
Ingin sekali aku, Tuhan
Lepas dari gejolak
neraka
Mentas pada
kedamaian
Ingin sekali aku...
(00.22 am, 6’O’2010)
Ynst
Pedofilia
Biarkan mereka menerka
Biarkan pula aku mencerna
Rasa yang tak pernah bisa ku seka
Aku mencintainya
Aku tahu tidaklah
lumrah
Seperti Pedofilia
saja
Bapak tua mencintai
cicitnya
Tapi ini fitrah jika
aku menyebutnya
Aku kini berbalik
Pernahkah mereka rasa
Yang disebut-sebut tabu ini?
“Tentu tidak, Pak
Tua!”
Pastilah jawabnya
Cinta....
Jika saja aku putar sejarah
Mungkin kita bisa tuliskan cerita
Dan mereka pun tahu
Makna sesungguhnya
(Di kamar kos, Malang, 6’O’2010)
Ynst
Cemburu
Cemburu,
Bagiku bumbu cinta
Kebanyakan mereka lisankan
Bagiku,
Ini sederhana
biasa
saja
Bagiku, harus ada
Yaah, kemasan cinta
Dalam corak api keemasan
(Di depan Hp, 6’O’2010)
Ynst
‘Breakdawn’
Aku hidup di dunia
berbeda
Menilik surga
berbalut dewi ihsan
Kunikmati keadaan tanpa
merasakan
Kuperawani kehidupan tanpa makna
Seperti mayat-mayat yang berjalan
Mungkin kau tahu arti
hidup untuk ada
Tapi kau tak mengerti
arti ada untuk hidupmu
(Kamar
kos, Malang, 31’Ja’2011)
Ynst
Munafik
Seperti kencing yang
kau jilati
Seperti membau kentut
sendiri
Tahu kamu berlisan seindah itu
Tapi tak kau alirkan ludah ke dalam darahmu
Membunuh hati…
(Kamar
kos, Malang, 31’Ja’2011)
Ynst
Iman
Aku tahu ada sebagian ruh dalam diriku menangis
Meronta di atas kecewa
Tetap saja si kulit pelapis tak peka
dengan keadaan di dalamnya
Tiga dalam satu
Aku, ruh itu, dan kamu…
Hai, kura-kura dalam perahu!
Aku marah karena tingkahmu!
Kapan pedulimu pada ruh kecil
yang masih menyala itu..?
Apa perlu aku merubahnya jadi api
yang meletupkanmu dari dalam!
(Di kamar kos, Malang, 9’Ap’2011)
Ynst
Terumbu
Sayang…
Tak ubahnya aku terumbu di dasar lautan
Menunggumu berani menyelam melihatku sebentar
Andai kubisa berbincang denganmu akan keadaanku ini
Beku…
Terselubung persepsimu padaku
Sadarilah sayang
Aku mati…
Tapi kau malah tersenyum
Salah menanggapi
Hanya mulut-mulut pipih ikan di sini
yang terbiasa menjilatiku tanpa lidah
Aku terpaku…
Inginku lari…
Kenapa tak sanggup?
Baru kusadari aku hanyalah sebuah terumbu
Terasing di samudra
Tapi Allah memberiku kekar dan sabar
Hingga semakin mulut ikan-ikan itu mendekat di tubuhku
Aku jadi semakin indah
(Tlogowaru, Kedungkandang, 9’Ap’2011)
Ynst
Tak
juga sepatah kata terurai
Lalu
kita mudah mengerti
Tetapi
seutuh kita memahati sebuah hati
Mungil,
kecil, putih bercahya
Di
situlah seteguk cinta berlabuh
(Siring Kemuning, Bangkalan, 24’Jun’12)
Ynst
Find Ur Self Concept
Fluktuatif…
Seperti itu kurasakan
jiwa ini
Mudah goyah dengan
gemparnya pandangan
Agresif…
Tidak
seyogyanya cinta ini berkobar
Bak nyala api yang
tiada sumbunya
Hanya
karenaNya bumi ini bernyanyi
Untuk
kemudian berdendang
Mengikuti
irama tak berasal
Tak gentar...
Tak begitu nyata
(Rumah
Nenek, Mlaten, 28No’2012)
Ynst
Jejak mendesak menderu sesak
Melukis sejarah mawa
Kerang mengerang meluapkan kesah
Ingin diperhatikan penjara
Tak disangka ada salju
Berkilau
Tapi bukan layaknya mutiara
Menantang
Menabur bulu hijau
Bersih...
(di Kotak Abu-Abu, Malang, 4’Ma’2013)
Ynst
Yang muda yang memilih
Untuk cinta yang rumit
Namun harap senantiasa
Indah menembus citra
Alangkah Tuhan sempurna
Semestinya telah menjadi semestinya
Tahta pada cinta telah dicipta
Ada dia.....
Rupa yang tak lupa berjiwa
ini sejatinya cinta
ini sejatinya cinta
Isi bukanlah ilusi
Non-fatamorgana pula
Aku turun dan kini memegangnya
Naskah yang ditakdirkan
Akhir dari semua pencarian...
Hanya cukuplah
Aku dan kamu
Yang telah disempurnakan Din-nya
Untuk detik lama kemudian
(Malang,4 ‘Ma’2013)
Ynst
P-I-N-T-U
Mereka indah tapi ganjil
Disayang namun sayang
Terpisah untuk terasing
Cacat dan terlukalah ini
Membekas dalam di ibu
“Sabar, Allah sedang menguatkanmu”
“Tenang, Allah sedang meninggikan tempatmu”
“Istighfar, segalanya telah diperuntukkan bagimu”
“Semua untuk kamu, ada yang disampaikanNya padamu”
Maka, pandaikanlah hatimu membuka pintu pesan
Tuhanmu
“Untuk para ibu anak-anak berkebutuhan khusus”
(SDN Percobaan 1 Malang, 7’Ma’2013)
Ynst
Bida, hangat nafasmu masih
terasa
mengelus dahi setiap keluhku
Mengalir menyokong pondasi
imanku
Engkau guru dalam ilmu
Motivator semangatku
Air wudlu benih agamaku
Bidadari surgaku
Kunci tegaknya rumah di masa
terakhirku
Bida.....
Bida.....
Bidadari sukmaku
Sabar membimbingku memaknai
sisi hidup
Bundaku, bidaku, Bidadariku
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Bianglala berhenti menari
Beralih menghibur diri
Drama berputarnya ayunan patung waktu berubah
menjadi tragedi
Paranada penabuh genderang sunyi
Saat itu bintang kecil terkekeh
membiarkan malam semakin buram...
Seakan memberi arti “ayo tertawa untuk
kepedihan diri!”
“Hati”, kapan kamu akan kembali?
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Pernah ku bermimpi
Bertemu seseorang
Wajahnya
bersinar....putih....bersih
Tapi samar, hanya
putih
Baju putih, peci
putih
Auranya bisa kurasa
Air wudlunya bisa kuterka
Imannya mampu kubina
Harum budinya mampu kuhisap
Dia
mengajakku sholat
Memohon
ridho-Nya
Kepada
Sang Khaliq
Bersama
berdoa
Tuk
berikan petunjuk
Agar
kami selalu berada
dan tetap kokoh di jalan-Nya
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Tidak ada firasat
yang pasti akan sebuah ketidaksengajaan
Yang membawa bibit
cinta dan buih kesetiaan terhadap rencana Ilahi
Setitik benih kasih
yang sebenarnya
milik sang Pecinta Hakiki
Dan harusnya
kembali kepada Pecinta itu sendiri
Kini kudekap dalam
memori sanubari
Dalam...
dan terselubung ketuban abdi
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Mengikhlaskan
waktu bertemu sang Pecinta Hakiki
Merasakan
nikmatnya hawa ketenangan di dalam surgahati
Dalam
shaf-shaf dakwah dan jihad untuk ummat Rasulullah
Kali
ini, bukan hanya setitik kewajiban
Tapi
segenggam kebutuhan naluri
Entah
apa yang kan
terjadi jika kesejukan kalbu yang kurasakan ini tak mengalir lagi…
Allah,
jagalah iman kami.
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Di
dunia ini, dari banyaknya manusia,
hanya
sedikit saja yang sadar.
Dari
yang sadar, hanya sedikit saja yang ber-Islam.
Dari
yang ber-Islam, hanya sedikit saja yang menuturkan.
Dari mereka yang menuturkan (dakwah), hanya
sedikit yang berjuang apa yang dituturkan
Dari
mereka yang berjuang, hanya sedikit yang bersabar.
Dari
mereka yang bersabar,
hanya
sedikit yang sampai di titik akhir perjalanan.
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Menjalin
komitmen itu seperti bermain api, tidak ada yang dapat menjamin kita tak akan
terbakar, akan tetapi ketika sudah memulai maka harus bermain sampai akhir
karena
jika tidak, kita yang akan membakar orang lain
atau
kita sendiri yang akan terbakar....
Tetapi
pada prinsipnya,
seperti
apa yang di katakan oleh senyum Bidadari Malam.....
“jadikan
dakwah sebagai poros kehidupan.....”
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Ibarat pohon karet,
Yang
dapat diambil manfaatnya
Ibarat
bunga mawar,
Yang
dapat dipetik
Namun
sang pemilik belum mengizinkannya
Dengan
izin Allah,
Telah
datang hari itu,
Pernikahan……
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Jundi-jundi
kecil menari di atas pangkuanku
Memegang
jemariku
Membuka
lisan kecilnya dan berkata,
“Bunda.....“
Mereka sumringah di sana...
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Allah…
Jika ini adalah takdirmu
Ikhlaskan hamba merelakannya
Jika ini adalah petunjuk yang Engkau
ridhoi untuk hamba jalani
Ijinkan hamba tulus menempuhnya hingga
akhir
Jika ini adalah jurang terjal yang
dibawahnya ada kebun kurma yang tinggal manis dipetik buahnya
Ijinkan hamba menuruninya
Jika dengan ketabahan ini
senyum bidadari akan tampak
menyeringai di balik duri
Mudahkanlah hamba menikmati duri itu
hingga surga nanti yang kan jadi
jawabannya
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Ada malam yang menggantikan siang
Begitu pula hidup ini
Muncul bibit baru sebagai pengganti bibit yang telah
gugur.....
6 bulan kemudian seorang akhi mengkhitbahku
Akhi yang pernah mengucap janji menikahiku
Dengan berbagai kekurangan yang kumiliki
Telah kudapat karunia Allah yang begitu besar
Seorang suami lagi, tempatku mengabdi dan menyempurnakan
agamaku
Seorang anak, yang tak perlu aku melahirkannya
karena rahimku telah tiada
Telah kutemukan bidadari
Titian Illahi yang berada di tengah keluargaku kini
Mengulum bias senyum mereka
Sebagai penghias-penghias surgaku
Novel “Mengulum Senyum Bidadari
Surga” 2012
Ynst
Dollar
Sabar
Sewaktu
kurs
menggila
kura-kura
tetap setia
acuh
pada lambatnya waktu
si
Kura tetaplah kura
tak
peduli kancil kini di depannya
yang
ia yakin hanya satu
tujuanku
mengejarnya, bukan dikejarnya
pelan tapi pasti.
(SDNP1, Malang, 2’Ap’@013)
Ynst


untuk pemesanan buku, hubungi:
BalasHapusCP: 085746446703 (WA/tlp)
Pin BB: 55BA2048
fb: yuniastari inanahayu
email: yuniastarii@gmail.com