Kamis, 15 Oktober 2015

ANTOLOGI PUISI "ANALISIS CINTA" 2008-2013



Prolog

Cinta, apakah itu?
Banyak versi tentang cinta. Bagi yang telah kecewa dengan kata C-I-N-T-A, cinta itu bulshit. Bagi yang masih percaya dengan cinta, cinta itu indah. Bagi yang bernafsu, cinta itu nikmat. Uhh, benarkah? Bagi yang netral pandangannya terhadap cinta, cinta itu bisa membuat kita bahagia, bisa pula membuat kita sedih. Bagi yang menganggap cinta itu senda gurau belaka, cinta adalah permainan. Bagi yang sama sekali nol pemahaman tentang cinta, cinta menjadi rasa ingin tahu yang besar. Hmm, dan bagi yang menganggap cinta itu anugerah, akan banyak warna di dalamnya. Dan warna-warna itu akan terlukiskan dalam bait-bait puisi yang sejuk dalam buku ini. Cinta itu bisa ditujukan pada siapa saja. Pada Tuhan, pada orang tua, pada saudara, pada keluarga besar, pada kekasih, pada istri, pada suami, pada anak, pada idola, bahkan pada binatang, pada tumbuhan, pada benda mati, pada harapan, ataupun pada sesuatu yang abstrak yang jauh dari jangkauan logika. Tidak banyak yang bisa mengartikan cinta sebelum berani merasakannya. Yupz, betul, cinta butuh keberanian.
Lalu, menurutmu sendiri cinta itu apa dan bagaimana rasanya?
Selamat menganalisis cinta dengan bermilyar rasa dan warnanya.
Jadilah milliarder cinta sesungguhnya! Kaya dengan rasa cinta.
@_u





Ide membukukan puisi-puisi ini terinspirasi dari lahirnya adik kecil
“Iqomatul Baqiyyatus Sholiha”

Cermin


Di sini aku memaku harap
memasang frame impian
        Melebur, menyatu, meleleh lagi
Di atas cermin masa
                  Teruslah melaju
                  Mengalahkan kereta cinta
        Jangan terhenti di besi yang rapuh
                  Lalu tak berpanah...
Di sini, cermin itu berkata

bersinar
       
        mem’bulan’i padhange ati
aduh biyung, rasa ini...
        tak pernah bisa ditebak logika

(Kamar Nenek, Mlaten, 14’Ma’2008)
Ynst




Rasa


Bimbang rasaku
Sejak dua tahun lalu
Luka terus membekas
Dan akhirnya menyisakan cinta
                            Cinta atau derita?
                            Silih berganti
                            Tak menentu
Kau boleh bilang ini soulmate
Aku pun boleh bilang just ‘classmate
                            Timbul tenggelam
                            Akhirnya mimpi  mati
                            Tiba-tiba hidup lagi
                            Mati lagi
Seiring waktu ku tentukan hati
Sampai sang Nyata Serwa
Datang pastikan takdirnya

(Rumah Nenek, Mlaten, 14’Ma’2008)
          Ynst




Usia dan Syukur


Jarummu usang kini, dik...
Perih menusuk nadi permadani
                  Jarummu usang kini, dik...
                  Mengibas satu muka merona
Jarummu usang kini, dik...
Percayalah 
Kamu ‘melek’ hanya sementara
                  Jarummu usang kini, dik...
                  Terbatas gerak dan langkah
                  Dunia ajang rapuhnya jiwa
Jarummu usang kini, dik...
Jangan mendengkur
Cobalah tersungkur
dan
teguhkan cintamu

(Rumah Nenek, Mlaten, 29’Ma’2008)
Ynst




Kecewa

Cinta... cinta... cinta...
Hanyalah kotak manusia berbuku
Bunga... dinda... Asmara
Layakkah baginya gelar ini?
Rindu... rintih... dendam
Merah jambu mengubah soleknya
Pilu ketika hendak disingkirkan
Meronta cita, semakin berduka
                    Bunga terlihat sedikit merekah
Saat asa masih di ujungnya
Ahh...
Akhirnya layu lagi
Kecewa
Harum ketika digariskan dengan pena
Sengak ketika dibiaskan tintanya
Ditanya:
Masihkah ‘dia’ luluh dengan pengkhianatan?
Mengatup kembali...

(Kamar Sunyi, Rumah, Akhir S’2010)
Ynst

Bertemu Kasih Ibu


Tersirat asa di empat pelupuk
Menangkap cahaya Halley
Tegas, cepat menyingkap langit
                         Haru biru bibirnya sunyi
                         Tanpa kata, tapi sarat makna
Melingkar tubuhku memuji Tuhan
Betapa bahagia menyilaukan
Seolah mendapat serwani
Sempurna agama dan nama
               Kuncup-kuncup cinta merekah
               Menambah apiknya dekorasi surga                Kini, kubisa tatap wajahmu
               Lama...
“Betapa cantiknya dirimu, Bu....”

(Sajadah Merah, Rumah, 2’O’2010)
Ynst





Asa

                                         Malam semu
Bulan menitikkan air mata
Membuatnya semakin kelabu
             Senyap hati ini
Terlintas sekelebat koloid
Tak ubahnya semakin sempit
Waktu dan hujan
Merampas gerak yang sudah menipis
Semakin tipis dan redup
              Ruangan ini
Membasahi ranting-ranting patah
Agaknya berharap tumbuh lagi
Oh, Nihil...
          Mimpi-mimpi terbang berkelok
Membuatnya semakin elok
          Sungguh, indah nian
Masih mengepak sayapnya di atas armada

(Kamar sunyi, Rumah, 2’O’2010)
          Ynst
Puisi ini juga diabadikan sebagai sebuah lagu


Menikah


Rindang wangi
Melesat ke sarang santri
Aduhai, bahagianya
                  Melatih jemari cinta
                  Merangkai ikebana
                  Aduhai, senangnya
Sejoli ditatih
Cerah senyumnya
Di atas altar
                  Mari ikut berdiri
                  Bersama kami
                  Menjenguk suara Nabi

(di Pernikahan kawan, Grati, 4’O’2010)
          Ynst


Ingin sekali aku, Tuhan


Ingin sekali aku, Tuhan
Bertahta dalam jiwa
Mengadu pada naluri

        Ingin sekali aku, Tuhan
Tidur di tengah hiruk pikuk dunia
                  Yang di sana mereka berkata
                  Di sini aku tenang
     
        Ingin sekali aku, Tuhan
Memangku rangkaian bungaku
Menikmati warna hidup
       
        Ingin sekali aku, Tuhan
                 
                  Lepas dari gejolak neraka
                  Mentas pada kedamaian
       
         Ingin sekali aku...

(00.22 am, 6’O’2010)
          Ynst
Pedofilia


Biarkan mereka menerka
Biarkan pula aku mencerna
Rasa yang tak pernah bisa ku seka
                  Aku mencintainya
                  Aku tahu tidaklah lumrah
                  Seperti Pedofilia saja
                  Bapak tua mencintai cicitnya
                  Tapi ini fitrah jika aku menyebutnya
Aku kini berbalik
Pernahkah mereka rasa
Yang disebut-sebut tabu ini?
                  “Tentu tidak, Pak Tua!”
                  Pastilah jawabnya
Cinta....
Jika saja aku putar sejarah
Mungkin kita bisa tuliskan cerita
Dan mereka pun tahu
Makna sesungguhnya

(Di kamar kos, Malang, 6’O’2010)
Ynst

Cemburu


Cemburu,
Bagiku bumbu cinta
Kebanyakan mereka lisankan
                  Bagiku,
                  Ini sederhana
                             biasa saja
           Bagiku, harus ada
           Yaah, kemasan cinta
           Dalam corak api keemasan


           (Di depan Hp, 6’O’2010)
          Ynst






Breakdawn


Aku hidup di dunia berbeda
Menilik surga berbalut dewi ihsan
Kunikmati keadaan tanpa merasakan
          Kuperawani kehidupan tanpa makna
         Seperti mayat-mayat yang berjalan
Mungkin kau tahu arti hidup untuk ada
Tapi kau tak mengerti arti ada untuk hidupmu

(Kamar kos, Malang, 31’Ja’2011)
Ynst











Munafik


Seperti kencing yang kau jilati
Seperti membau kentut sendiri
        Tahu kamu berlisan seindah itu
        Tapi tak kau alirkan ludah ke dalam darahmu
Membunuh hati…

(Kamar kos, Malang, 31’Ja’2011)
Ynst







Iman

Aku tahu ada sebagian ruh dalam diriku menangis
Meronta di atas kecewa
Tetap saja si kulit pelapis tak peka
dengan keadaan di dalamnya
Tiga dalam satu
Aku, ruh itu, dan kamu…
Hai, kura-kura dalam perahu!
Aku marah karena tingkahmu!
Kapan pedulimu pada ruh kecil
yang masih menyala itu..?
Apa perlu aku merubahnya jadi api
yang meletupkanmu dari dalam!

(Di kamar kos, Malang, 9’Ap’2011)
Ynst






Terumbu

Sayang…
Tak ubahnya aku terumbu di dasar lautan
Menunggumu berani menyelam melihatku sebentar
Andai kubisa berbincang denganmu akan keadaanku ini
Beku…
Terselubung persepsimu padaku
Sadarilah sayang
Aku mati…
Tapi kau malah tersenyum
Salah menanggapi
Hanya mulut-mulut pipih ikan di sini
yang terbiasa menjilatiku tanpa lidah
Aku terpaku…
Inginku lari…
Kenapa tak sanggup?
Baru kusadari aku hanyalah sebuah terumbu
Terasing di samudra
Tapi Allah memberiku kekar dan sabar
Hingga semakin mulut ikan-ikan itu mendekat di tubuhku
Aku jadi semakin indah
(Tlogowaru, Kedungkandang, 9’Ap’2011)
Ynst





Tak juga sepatah kata terurai
Lalu kita mudah mengerti
Tetapi seutuh kita memahati sebuah hati
Mungil, kecil, putih bercahya
Di situlah seteguk cinta berlabuh

 (Siring Kemuning, Bangkalan, 24Jun12)
Ynst







Find Ur Self Concept


Fluktuatif…
Seperti itu kurasakan jiwa ini
Mudah goyah dengan gemparnya pandangan
                             Agresif…
                             Tidak seyogyanya cinta ini berkobar
                             Bak nyala api yang tiada sumbunya
Hanya karenaNya bumi ini bernyanyi
Untuk kemudian berdendang
Mengikuti irama tak berasal
                             Tak gentar...
                             Tak begitu nyata

(Rumah Nenek, Mlaten, 28No’2012)
Ynst









Jejak mendesak menderu sesak
Melukis sejarah mawa
Kerang mengerang meluapkan kesah
Ingin diperhatikan penjara

Tak disangka ada salju
Berkilau
Tapi bukan layaknya mutiara

Menantang
Menabur bulu hijau
Bersih...

(di Kotak Abu-Abu, Malang, 4’Ma’2013)
Ynst


Yang muda yang memilih
Untuk cinta yang rumit
Namun harap senantiasa
Indah menembus citra
Alangkah Tuhan sempurna
Semestinya telah menjadi semestinya
Tahta pada cinta telah dicipta
Ada dia.....
Rupa yang tak lupa berjiwa
i
ni sejatinya cinta





Isi bukanlah ilusi
Non-fatamorgana pula
Aku turun dan kini memegangnya
Naskah yang ditakdirkan
Akhir dari semua pencarian...
Hanya cukuplah
Aku dan kamu
Yang telah disempurnakan Din-nya
Untuk detik lama kemudian
(Malang,4 ‘Ma’2013)
Ynst





P-I-N-T-U

Mereka indah tapi ganjil
Disayang namun sayang
Terpisah untuk terasing
Cacat dan terlukalah ini
Membekas dalam di ibu
“Sabar, Allah sedang menguatkanmu”
“Tenang, Allah sedang meninggikan tempatmu”
“Istighfar, segalanya telah diperuntukkan bagimu”
“Semua untuk kamu, ada yang disampaikanNya padamu”
Maka, pandaikanlah hatimu membuka pintu pesan Tuhanmu


“Untuk para ibu anak-anak berkebutuhan khusus”
(SDN Percobaan 1 Malang, 7’Ma’2013)
Ynst




Bida, hangat nafasmu masih terasa
mengelus dahi setiap keluhku
Mengalir menyokong pondasi imanku
Engkau guru dalam ilmu
Motivator semangatku
Air wudlu benih agamaku
Bidadari surgaku
Kunci tegaknya rumah di masa terakhirku
Bida.....
Bida.....
Bidadari sukmaku
Sabar membimbingku memaknai sisi  hidup
Bundaku, bidaku, Bidadariku


Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst



Bianglala berhenti menari
Beralih menghibur diri
Drama berputarnya ayunan patung waktu berubah menjadi tragedi
Paranada penabuh genderang sunyi
Saat itu bintang kecil terkekeh membiarkan malam semakin buram...
Seakan memberi arti “ayo tertawa untuk kepedihan diri!”
“Hati”, kapan kamu akan kembali?





Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst








Pernah ku bermimpi
Bertemu seseorang
Wajahnya bersinar....putih....bersih
Tapi samar, hanya putih
Baju putih, peci putih
Auranya bisa kurasa
Air wudlunya bisa kuterka
Imannya mampu kubina
Harum budinya mampu kuhisap
                             Dia mengajakku sholat
                             Memohon ridho-Nya
                             Kepada Sang Khaliq
                             Bersama berdoa
                             Tuk berikan petunjuk
                             Agar kami selalu berada
                           dan tetap kokoh di jalan-Nya


Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst






Tidak ada firasat yang pasti akan sebuah ketidaksengajaan
Yang membawa bibit cinta dan buih kesetiaan terhadap rencana Ilahi
Setitik benih kasih
yang sebenarnya milik sang Pecinta Hakiki
Dan harusnya kembali kepada Pecinta itu sendiri
Kini kudekap dalam memori sanubari
Dalam... dan terselubung ketuban abdi


Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst












Mengikhlaskan waktu bertemu sang Pecinta Hakiki
Merasakan nikmatnya hawa ketenangan di dalam surgahati
Dalam shaf-shaf dakwah dan jihad untuk ummat Rasulullah
Kali ini, bukan hanya setitik kewajiban
Tapi segenggam kebutuhan naluri
Entah apa yang kan terjadi jika kesejukan kalbu yang kurasakan ini tak mengalir lagi…
Allah, jagalah iman kami.

Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst









Di dunia ini, dari banyaknya manusia,
hanya sedikit saja yang sadar.
Dari yang sadar, hanya sedikit saja yang ber-Islam.
Dari yang ber-Islam, hanya sedikit saja yang menuturkan.
 Dari mereka yang menuturkan (dakwah), hanya sedikit yang berjuang apa yang dituturkan
Dari mereka yang berjuang, hanya sedikit yang bersabar.
Dari mereka yang bersabar,
hanya sedikit yang sampai di titik akhir perjalanan.

Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst







Menjalin komitmen itu seperti bermain api, tidak ada yang dapat menjamin kita tak akan terbakar, akan tetapi ketika sudah memulai maka harus bermain sampai akhir
karena jika tidak, kita yang akan membakar orang lain
atau kita sendiri yang akan terbakar....
Tetapi pada prinsipnya,
seperti apa yang di katakan oleh senyum Bidadari Malam.....
“jadikan dakwah sebagai poros kehidupan.....”


Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst



Ibarat pohon karet,
Yang dapat diambil manfaatnya
Ibarat bunga mawar,
Yang dapat dipetik
Namun sang pemilik belum mengizinkannya
Dengan izin Allah,
Telah datang hari itu,
Pernikahan……

Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst







Jundi-jundi kecil menari di atas pangkuanku
Memegang jemariku
Membuka lisan kecilnya dan berkata,
 “Bunda.....“
 Mereka sumringah di sana...


Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst







Allah…
Jika ini adalah takdirmu
Ikhlaskan hamba merelakannya
Jika ini adalah petunjuk yang Engkau ridhoi untuk hamba jalani
Ijinkan hamba tulus menempuhnya hingga akhir
Jika ini adalah jurang terjal yang dibawahnya ada kebun kurma yang tinggal manis dipetik buahnya
Ijinkan hamba menuruninya
Jika dengan ketabahan ini
senyum bidadari akan tampak menyeringai di balik duri
Mudahkanlah hamba menikmati duri itu
hingga surga nanti yang kan jadi jawabannya


Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst


Ada malam yang menggantikan siang
Begitu pula hidup ini
Muncul bibit baru sebagai pengganti bibit yang telah gugur.....

6 bulan kemudian seorang akhi mengkhitbahku
Akhi yang pernah mengucap janji menikahiku
Dengan berbagai kekurangan yang kumiliki





Telah kudapat karunia Allah yang begitu besar
Seorang suami lagi, tempatku mengabdi dan menyempurnakan agamaku
Seorang anak, yang tak perlu aku melahirkannya
karena rahimku telah tiada
Telah kutemukan bidadari
Titian Illahi yang berada di tengah keluargaku kini
Mengulum bias senyum mereka
Sebagai penghias-penghias surgaku



Novel “Mengulum Senyum Bidadari Surga” 2012
Ynst


Dollar Sabar

Sewaktu
            kurs menggila
                        kura-kura tetap setia
                                    acuh pada lambatnya waktu
                                                si Kura tetaplah kura
                                    tak peduli kancil kini di depannya
                        yang ia yakin hanya satu
            tujuanku mengejarnya, bukan dikejarnya
pelan tapi pasti.

(SDNP1, Malang, 2’Ap’@013)
Ynst







 



1 komentar:

  1. untuk pemesanan buku, hubungi:

    CP: 085746446703 (WA/tlp)
    Pin BB: 55BA2048
    fb: yuniastari inanahayu
    email: yuniastarii@gmail.com

    BalasHapus